jump to navigation

Penggunaan Kondom Dipengaruhi Faktor Sosial Budaya November 27, 2007

Posted by peyank in Teknologi Informasi, about bisnis, bugil, cas cis cus, cewek, ciuman, forum bebas, kasih sayang dan cinta, kesehatan, kesuksesan, kissing, live style, menggairahkan, sex live, wanita.
trackback

Para peneliti mengemukakan bahwa ternyata faktor sosial dan kebudayaan bisa menjadi penyebab kalangan muda enggan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap kalangan muda berusia dibawah 25 tahun, ada yang merasa tak percaya dengan ‘alat pengaman’ tersebut dan juga ada yang berpikiran bahwa dengan selalu membawa kondom akan mempengaruhi pengalaman dan sensasi yang mereka dapatkan dalam melakukan kegiatan seksual.

Dalam tinjauan terhadap 250 penelitian perilaku seksual kalangan muda, para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan kesamaan mendasar, yang mempengaruhi perilaku seksual kalangan di beberapa negara berbeda.

“Dari studi ini bisa disimpulkan kunci yang bisa membantu memahami perilaku seksual kalangan muda dan alasan mengapa mereka lebih suka melakukan seks tanpa pengaman,” kata Dr. Cicely Marston dan Eleanor King dalam sebuah jurnal medis The Lancet.

Mereka menemukan, dibandingkan dengan lelaki, kebebasan seksual para wanita umumnya lebih terbatas. Jika seorang wanita kedapatan hamil diluar pernikahan, akan mendapatkan hukuman yang bentuknya sangat bervariasi, dari kritikan hingga pembunuhan.

Hal ini juga didasarkan pada suatu anggapan, dimana seorang wanita yang dianggap mempermalukan keluarganya harus dibunuh. Namun, tidak demikian yang terjadi pada kaum lelaki yang melakukan seks diluar pernikahan.

Dan berangkat dari anggapan tersebut, para lelaki seolah memiliki legitimasi, bahkan hingga merasa ‘harus’ memiliki aktifitas seksual yang tinggi, dan itu yang mempengaruh perilaku ’seenaknya’ dari mereka dalam berhubungan seksual. Sementara, para wanita harus menjaga kesucian mereka, menurut data dari beberapa negara, termasuk Inggris, Australia, Meksiko dan Amerika Selatan.

Sementara, studi yang lain, yang dilakukan antara tahun 1990-2004 menunjukkan bahwa kalangan muda sangat potensial terkena penyakit yang diderita oleh pasangannya, sehingga saat itu mulai dirasakan perlunya kondom. Namun karena tak dibarengi dengan sosialisasinya dan dirasa hanya akan mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seksual, maka kondom hanya sekedar jadi opsi yang sangat bisa diabaikan.

“Temuan kami itu menjelaskan mengapa banyak program HIV tak bisa berjalan efektif. Program-program itu hanya menyediakan informasi dan kondom, tanpa membeberkan faktor sosial yang sangat penting, sehingga tak akan menyelesaikan permasalahan yang ada,” kata para peneliti tersebut.

Comments»

1. mallcom - December 15, 2007

Kondom gajah besarnya seberapa yah? ;) )

2. ARMITA ESTI KUMALASARI - August 21, 2008

BAGAIMANA PENGGUNAAN KONDOM YANG BAIK?
KN KADANG TERJADI KEBOCORAN?

3. peyank - August 23, 2008

Saudari Armita : Penggunaan kondom yang baik ada pada dos pembungkusnya, usahakan jangan mengolaskan lotion pada kondom karena malah akan memberikan reaksi kimia dengan pelumas yg ada.
Dan kecelakaan dalam hal ini kebocoran , pada dus itu juga sudah di peringatkan bahwa hanya menjamin 99% bukan 100%.
Jangankan kondom, suntik pun pada sebagian orang tetep tidak melindungi dari kehamilan, saya ada bukti dan saksi :D .
Ini terjadi karena reaksi hormonal si cewek lebih dominan ketimbang “obat” yang di suntikan (atau lebih kita kenal dengan suntik KB).
maka tetap berhati hati.